|
Ini berhubung lagi sakit, terkapar gara-gara sakit perut, tulisan yang sudah lama nongkrong di computer langsung dikeluarkan. Foto-foto menyusul, seperti biasa, kalau inget ^^ Sushi-meshi atau nasinya sushi, merupakan nasi jepang yang dicampur dengan mirin, su gula gdan garam. Nah mari berkenalan dengan Mirin dan Su! 
Mirin merupakan sweet sake dan mengandung alkohol yang lebih rendah dari sake yang biasa diminum. Mirin ini terdapat di hampir semua masakan jepang, termasuk teriyaki sauce*. Sedikit tips dari saya, kalau kebetulan mengeluarkan udang atau ikan yang agak amis, celupkan aja pada mirin atau sake untuk menghilangkan keamisannya. Dengan catatan kalau anda nggak diharamkan mengkonsumsi alkohol ya ! Alkohol sendiri merupakan elemen penting dari masakan jepang karena kebanyakan masakan Jepang menggunakan ikan mentah dan alkohol berfungsi untuk mematikan bakteri, sama seperti wasabi. Tak hanya ditemukan di dalam mirin alkohol juga terdapat dalam soy sauce, termasuk soy sauce yang biasanya dipakai untuk dipping sushi sebelum dimakan. Nggak heran kalau masak nasi goreng pakai soy sauce Jepang lebih enak ketimbang saus apapun ! Su merupakan rice vinegar/ cuka. Kalau membuat sushi, jangan coba-coba menggunakan apple cider vinegar (karena baunya) ataupun cuka asli Indonesia, karena tingkat keasamannya beda. Untuk 1 kilogram beras Jepang (2.5 kg nasi), bahan-bahan yang diperlukan adalah : - 150 cc Su Vinegar (terus terang dengan 150cc, nasinya kurang asam, kalau anda doyan yang lebih asam, tambahkan lagi su-nya)
- 25 cc mirin
- 2 sdm gula pasir
- 2 sdm garam
Keempat bahan tersebut tidak boleh dicampurkan di atas api (karena ada gulanya, nanti gulanya jadi caramel); jadi harus dimasak di atas panci yang ada air mendidihnya dengan sendok kayu. Jangan pakai sendok logam. Mencampur nasi dengan cuka (teknik memasak nasi dapat ditengok di postingan sebelumnya) : - Hamparkan nasi yang PANAS di atas wadah kayu, atau kalau gak ada plastik yang safe grade. Nasi yang ada di bagian bawah panci/ magic jar yang kering sebaiknya nggak ikut dicampurkan. Dan jangan tebal-tebal menumpuk nasinya, nanti gak rata cukanya.
- Setelah itu siramkan cuka di atas dengan merata. Jangan menyiram nasi dua kali, bisa-bisa separo asem, separo kurang asem ; siramkan sekali saja tapi rata. Kalau iseng, kayak saya, semprot pakai sprayer biar rata.
- Tunggu selama kurang lebih 10 menit, baru balikkan nasinya dengan sendok kayu. Ketika membalikkan tentunya harus pakai perasaan, lagi-lagi karena berasnya aduhai nan mahal!
- Nah nasi yang sudah dibumbui tadi dapat tahan 1 x 24 jam, di hawa ruangan tapi harus ditutup. Tinggal tunggu nasinya dingin untuk dibuat sushi!

Biar gak hoax, ini dia hasil sushi saya yang kebanyakan nasinya jadi gak bisa digulung sempurna ^^
--oOo-- *sekali waktu saya makan di sebuah restaurant jepang baru di depan Apotek di kawasan Senopati. Waitressnya mengatakan saus teriyaki-nya habis, teman saya yang orang Jepang langsung bertanya "bikin saus teriyaki kan gampang, kenapa gak bikin?”. Ketahuan deh itu restaurant beli saus teriyaki instant! Rupanya saus teriyaki ini saos paling gampang sedunia, cukup campur soy sauce, mirin (dengan perbandingan 1:1) dan tambahkan sedikit gula. ** menambahkan informasi untuk soy sauce halal dan haram, Kikkoman dan Yamasa (yang eceran) ditambahkan alkohol pada proces akhirnya. Kalau mau yang halal, bisa beli Yamasa yang 18 liter (banyak beeng....buat berendem kali ya). Seringkali orang bertanya, mengapa nasi di restoran Jepang rasanya lebih enak dari nasi dari tempat lain. Ternyata oh ternyata rahasianya ada di kesabaran, ketelatenan dan kekuatan kantong dalam memasak nasi. Ini dia rahasianya: - Beras yang dipilih harus beras kualitas tinggi, yang nggak mudah patah (dan tentunya tidak disemprot pakai obat nyamuk ataupun bensin untuk membunuh hamanya*) dan short-grain. Jenis beras jepang bahasa kerennya Oryza sativa var. Japonica. Beras nan mahal ini kalau di Jakarta bisa di beli di Papaya atau di Kamome. Belum sempat ngecek apakah di Grand Lucky ada. Harganya jangan nanya deh kalau gak kepengen pingsan.**
- Cuci beras, tapi ketika mencuci beras jangan diaduk-aduk dengan kasar, harus halus pakai perasaan. Takut patah bow. Ketika mencuci beras terakhir kalinya, cukup kucuri air selama 2 menit.
- Setelah itu, tiriskan beras di atas kain (atau saringan yang teramat kecil lubangnya) selama 15 menit supaya berasnya mekar dan merekah.
- Setelah 15 menit, beras dapat dimasak. Nah rumus beras Indonesia yang airnya diukur pakai jempol itu jangan dipakai lagi. Gunakan takaran ini: 1 kg beras = 1.8 lt air sedangkan ½ kg beras = 1 lt air, bukan 900 ml ya!
- Masukkan beras dalam rice cooker atau magic jar selama 45 menit dan jangan dibuka-buka sebelum 45 menit.
Et voila, jadilah nasi yang enak. Cara masak ini juga diterapkan kalau mau membuat sushi-meshi (bagi-bagi ilmu sushi-meshinya nanti aja yah). Selamat memasak!
-o0o-
* Baru-baru ini saya menghadiri seminar tentang hama wereng coklat dan perubahan iklim. Ternyata oh ternyata, banyak sekali petani yang membunuh hama were coklat itu dengna menyemprotkan hal-hal yang tidak seharusnya disemprotkan. Hal lain yang mengejutkan, banyak pestisida di Indonesia ternyata sudah lama dilarang di Eropa.** Semenjak tahu harga beras Jepang, saya jadi lebih mengapresiasi masakan Jepang, nggak akan lagi menyisakan nasi. Biar kantongnya gak nangis! Meniru-niru Ibu dokter yang suka memajang buku-bukunya yang sudah dibaca ; saya ikutan pamer. Biar banyak yang tertarik dan membaca. Buku-buku yang saya baca di bawah ini e-book untuk kindle. Inilah beberapa buku yang saya baca:
 Jaman QBworld masih berjaya (dan saya masih jadi pelajar tanpa uang), saya pengen banget untuk beli boxset yang berisikan trilogy ini, waktu itu harganya cukup mencekik leher pelajar. Akhirnya niatan baca keturutan juga setelah punya kindle. Disini, Jean Sasson, penulis favorite saya (yang pernah saya kirimi email, saking ngefansnya) menceritakan tentang kehidupan Princess Sultana, anaknya dan teman-temannya. Dikuaklah kebobrokan di negeri Arab sana terutama pelanggaran HAM pada perempuan di negeri Arab, kekerasan seksual, penghamburan uang hingga soal konsumsi alkohol.

Masih dari penulis yang sama, kali ini Jean menceritakan tentang seorang ibu yang kehilangan hak asuh anaknya dan menanti bertahun-tahun untuk bertemu kembali dengan anaknya. Sang anak diambil oleh Bapaknya yang abusive, dibawa kembali ke Afganistan, sedangkan sang Ibu tinggal di Amerika. Si Ibu kemudian menikah lagi, punya anak lagi, tapi masih tetap merindukan anak pertamanya. Akhirnya si Ibu bertemu dengan anaknya yang ternyata berubah jadi Malin Kundang dan cuma nyari kewarganegaraan Ibunya.
 Buku ini menceritakan perjalanan hidup seorang Putri dari German yang kemudian menjadi Empress Russia. Bagaimana Catherine kehilangan hubungan dengan anaknya, skandalnya, hobinya membeli lukisan, korespondennya dengan Diderot dan Voltaire, hingga cerita tentag Chickenpox. Setelah selesai baca buku ini saya benar-benar merasa bahwa Catherine memang pantas dijuluki Catherine the Great. Pulitzer winner, Robert K. Massie menulis buku ini selama 8 tahun! Nggak heran kalau kemudian buku ini menjadi buku terbaik di tahun 2011. Buat saya ini merupakan buku biografi terbaik yang pernah saya baca, sangat inspiratif dan indah.

Why We Left Islam: Former Muslims Speak Out. Sampul buku ini nggak saya pasang untuk menghindari complain dan membuat orang tidak happy. Buku ini sudah ada di wishlist saya selama beberapa tahun, tapi tiap kali mau beli mikirnya seribu kali. Kenapa? Takut kalau sampai bea cukai bukunya disita, denger-denger sih dilarang. Buku ini berisikan 23 testimoni dari bekas pemeluk Islam. Terus terang kalau mau cari testimoni, dari agama apapun, tinggal google aja. Tapi ada beberapa website anti-Islam yang di banned sama Pak Menteri Twitter lho, mungkin isinya dianggap porno. Bali lagi ke buku ini, hmmmm…saya nggak suggest untuk di beli, karena cuma ada segelintir cerita yang menarik; terutama testimony dari bekas ekstrimist. Sisanya krik…krik…krik….
 Dalai Lama tidak pernah gagal membuat saya tersenyum dan manggut-manggut! Di buku ini Dalai Lama menuliskan tentang pentingnya etika bagi seluruh umat manusia, tanpa embel-embel agama, alias “Etika Sekuler”. Argumennya menarik dan personally saya setuju. Walaupun gak mungkin juga hal-hal yang berbau berbau sekuler diterapkan di negeri ini.

Sebenarnya saya udah pernah baca buku ini sekitar 15 tahun lalu, pas jaman umur 2 tahunan. *edan*. Berhubung saya pencinta skandal, buku ini saya baca ulang, demi merefresh memory yang sudah usang. Selain itu juga karena buku ini gratisan. Disini diceritakan dengan details hidupnya Anna Karenina yang sudah bersuami dan beranak yang kemudian berselingkuh sampai hamil.
Baru di release! Buku ini nggak terlalu menarik, ada beberapa bagian dimana penulis loncat-loncat hingga membuat bingung. Ceritanya lebih banyak tentang perjalanan/ kunjungan/ jalan-jalannya sang Ratu. Bagian tentang Diana juga bikin saya sebel sama si penulis.
Sedang dibaca dan sisanya akan dibaca (Pingsan...ternyata banyak juga beli buku yaks, pantes bokek) :
Biasanya saya membaca cerita tentang Tudor karya Gregory atau Weir, kali ini saya mencoba membaca “korbannya” Tudor. Saya baru baca beberapa lembar, sudah pusing. Alurnya sangat lambat dan bahasanya kurang pas. Jadi di ignore deh buku ini; gak dilanjutkan bacanya ^^
Sejujurnya saya beli buku ini cuma karena sampulnya yang menarik. Jadi designer dan fotografernya patut berbangga hati sudah sukses menarik perhatian :)
Buku ini ternyata trilogy dan lanjutannya baru akan terbit akhir tahun ini dan tahun depan. Jadi harus sabar menanti.
Ceritanya sendiri mix antara kisah nyata dan fiksi. Disini diceritakan bagaimana Toinette dipersiapkan menjadi istri Dauphin. Giginya yang berantakan dipermak, demi terlihat cantik; jalannya diatur sedemikian rupa demi bisa gliding walk dan tak lupa otaknya diasah sedemikian rupa. Bukunya menggunakan bahasa sederhana dan ditulis secara menarik. Cucok untuk mereka yang suka novel dengan background sejarah!
Nah kalau ada yang punya kindle dan pengen barteran atau sharing cost beberapa buku di atas boleh kontak saya.
o0o
Ketika Oprah mengumumkan Kindle sebagai salah satu benda favouritenya dan mengupas kelebihan e-book ini, saya yang hobi baca buku langsung jatuh cinta. Sebagai pelanggan setia Amazon, Kindle akan memuaskan hobi belanja buku saya. Tapi ketika tahu Kindle gak bisa dikirim ke luar Indonesia, harapan saya pupus. Nasib tinggal di Indonesia! Harapan untuk punya kindle akhirnya terkabul setelah tahun lalu pacar ngotot nanya mau apa buat ulang tahun. Akhirnya di ulang tahun saya yang ke 17, dapat juga kindle dari pacar. *pamer ceritanya*.
 Menurut saya, makluk lucu ini cocok buat yang hobi baca buku-buku bahasa Inggris. Bukannya gak nasionalis, tapi kebanyakan buku bahasa Indonesia formatnya PDF. Buat saya, PDF tidak terlihat indah di Kindle, susah bacanya. Kindle ini diciptakan dengan teknologi e-ink dan nggak ada backlightnya jadi gak bikin mata capek walaupun membaca berjam-jam. Selain itu kindle sangat ringan dan baterainya tahan lama. Nggak hanya itu, amazon juga memanjakan kita dengan buku-buku gratis dan akses untuk mendapatkan sample buku sebelum membeli. Yang menganggu dari kindle adalah proses mengganti halaman, tinggal pencet tombol sih, tapi jadi ada delay sepersekian detik. Ini membuat kecepatan membaca di Kindle lebih lambat daripada membaca buku asli. Selain itu, Amazon juga gak kenal dengan IP address Indonesia. Kenal sih, begitu log in mencoba masuk Kindle Store, pasti dibilang: “eh dari Indonesia, sorry ye gak bisa belanja buku yang lagi hot di Amazon Store”. Cuma ada beberapa gelintir buku yang anak TK aja males bacanya! Jadi orang Indonesia suka susah, passport hijau susah buat nyari visa, kartu kredit susah buat belanja, sekarang IP address dari Indonesia pun susah. Tapi syukurnya orang Indonesia selalu cerdik! Jadi kalau mau belanja di Kindle Store ganti IP jadi IP US dan bayar pakai gift card. Dalam waktu kurang dari 1 menit, buku pun selesai di download ke PC dan bisa segera ditransfer ke Kindle. Kindle ini juga dilengkapi dengan game dan web browser. Tapi browsernya super lemot dan hitam putih. Buat saya, ini jadi keuntungan, karena bisa focus baca. Kalau berminat beli Kindle, ada beberapa cara untuk membelinya, bisa lewat Neng Ririn di Kaskus, bisa beli di Mall Ambassador atau toko-toko yang jual e-book. Kalau pengen nyoba bisa juga beli langsung di Amazon, walaupun prosesnya agak ribet, mesti dikirim via forwarder yang kemudian akan mengirimkan ke Indonesia. Setelah sampai Indonesia, mesti urusan juga sama cukai. Males deh.... o0o Semoga postingan ini menyemangati pencinta buku untuk beralih ke Kindle dan menghemat kertas. Perempuan Indonesia itu rentan terhadap pelecehan, dimana saja, tapi salah satunya di jalan. Mungkin kalau bisa bikin penelitian, pelecehan paling banyak terjadi di dekat bangunan yang sedang di bangun, di atas bis dan di jalan. Coba perhatikan, kalau seorang perempuan jalan melewati segerombolan pria, resiko disiulin, diteriakin “cewek-cewek”, atau diberi komentar yang bikin si cewek pengen nampar pakai-kaki-depan-gajah cukup tinggi. Itu jalan sendiri, jalan sama warga negara asing (baca : bule) lebih beresiko lagi. Hari ini saya jalan kaki dari kantor ke halte Transjakarta dengan seorang teman kantor yang kebetulan warga negara asing. Pas lagi jalan di ujung jalan Senopati, ada segerombolan tukang bangunan yang jalan di belakang saya. Pengalaman pribadi membuktikan, tukang bangunan termasuk oknum yang suka melecehkan perempuan, entah kenapa Gerombolan ini kemudian sok-sokan menirukan kata-kata Inggris yang saya ucapkan dan tertawa-tawa. Seakan-akan itu adalah hal yang lucu. Celotehan mereka ini sungguh tidak menyenangkan dan membuat darah mendidih, padahal suasana Jakarta sedang adem karena baru diguyur hujan. Entah dapat kekuatan dari mana, mungkin naluri sebagai Aremanita, saya putar badan, melotot ke salah satu tukang itu – yang suaranya paling kenceng – dan teriak ke dia. Terus terang saya nggak inget apa yang saya katakan, tapi kalau gak salah sih saya bilang “Apaan sih mas dari tadi ……..” lanjutannya sudah nggak kerekam lagi di kepala karena cepatnya kejadian. Si Mas tukang bangunan itu langsung gelagapan dan bilang, “saya cuma guyonan sama teman”. Nggak hanya muka dia, muka teman-temannya langsung berubah jadi kecut dan mereka semua diam seribu bahasa. Rasa marah saya campur aduk sama lega dan, terus terang, ada sedikit ketakutan. Reaksi saya boleh dibilang nekat, mengingat mereka segerombolan 5 orang, sementara saya cuma berdua. Kolega saya pun nggak ngerti bahasa Indonesia dan dia bengong lihat saya tiba-tiba ngamuk di pinggir jalan. Rupanya para tukang ini juga mengarah menuju jembatan di depan Ratu Plaza dan pas naik ke jembatan, saya sempatkan men-scan mereka satu persatu dari kepala ke kaki dan tentunya menantang mata mereka. Tips jika dilecehkan di jalan: - Kalau digodain di jalan dan merasa menganggu, jangan diam aja, tapi LAWAN, LAWAN, LAWAN! Jangan lupa lakukan kontak mata.
- Tapi kalau jalanan sepi, tolong lupakan tips nomer satu diatas. Ganti dengan LARI, LARI, LARI!
- Pelecehan bisa terjadi dimana-mana dan bisa mengarah pada hal yang lebih buruk. Nah, kalau punya uang extra, demi menjaga keselamatan dari hal-hal yang lebih buruk, mendingan beli pepper spray atau stun gun. Lagi mikir buat beli juga!
-o0o- Wibi Soerjadi is a Dutch pianist who was born on 1970 in Leiden. Judging from his name, I am pretty sure that his parents are (or were) Indonesian. Supported by Erasmus Huis (and others sponsors), he came to Jakarta and held a free recital Piano which took place in Erasmus Huis few hours ago. Since it’s free, I went there. Who doesn’t love free concert? Plus, it’s classic! VIP guests were queuing to get into the building when I arrived. It was 45 minutes before the recital and when I put my name on the waiting list, I was already on number 63. After the VIP guests got into the building, only 48 people who were on the waiting list allowed to get into the room. So, I ended up outside the building, sitting in front of a big screen, next to a very annoying man-who-does-not-like classic and like me, he came because it is free. He was also in waiting list and his number was 112. This 112-man talked to me and kept talking, although my eyes were glued to a module. He claimed that he prefers rock music rather than classic and he will only stay for one round (satu babak!) only. Then he started to talk about the lost of the Netherlands during the world cup and bla bla bla bla bla….. Soerjadi opened the program with a piece from Mozart, titled “Adagio” from Concerto KV 488 (Soerjadi), and followed by Bach (Feruccion Busoni) piece, Toccata and Fuge in D-Moll BWV 565. He then continued with “Adagio” un poco mosso from concerto no. 5 opus 73 (Soerjadi) and before the intermission he pampered our ears with a piece from Vincenzo Bellini (Franz Liszt), Réminiscences de Norma S. 394 (doca Soerjadi). After 15 minutes of intermission (and lot of chips and soft drinks for everyone), the talented man went back to the stage to pamper our mind, heart and ears. I found that the second session of this recital is more interesting. During this session, he played only his compositions and started with a piece titled ‘Fearless’. When Soerjadi was playing his second piece, a tribute to her mom, titled ‘To Mom’ a phone rang. Yes, literately a phone was ringing and it seems that the stupid owner did not realize that it was ringing until few seconds. Oh come idiot, it was a beautiful tribute to his beloved mother. I went to few recitals piano and other classic performances (even jazz concert) and during the performance (be it free or no) there’s always, at least one, idiot who forgot to switch off his/ her mobile phone. I think Erasmus should stop providing snacks, soft drink or beers to spectators and start to invest on a good signal blocker. Well if it is too expensive, then banned any kind of mobile phone from the building and provide a good locker for this (@ America knows better how to do this). At the end of his performance, Soerjadi played a nine-part composition titled “Apuleius’ Amor & Psyche”. This composition was written on 2009 when he was suffering from idiopathic sudden sensor neural hearing loss. It was the best part of the show as it was so beautiful. My favorite from this piece about Amore and Psyche are the Sinfonia (Overture) and the third part about Psiche. The latter sounds very feminine and soft to my ears. Just beautiful! He, of course, got a standing applause for his brilliant performance and as a reward for the spectators (for standing, LOL), he gave an encore, music from “Pirates of The Caribbean”. The best part was that the he played ONLY with one hand, the left hand. Super awesome!!! The second encore was “Bengawan Solo”, a very beautiful Indonesian song written by Gesang. I am sure somewhere in heaven, Gesang listens to his performance and very proud of this talented man. Soerjadi released his first CD titled “Dance of Devotion” on 2008 and the CD contains only his compositions. Unfortunately the CD was not available in Erasmus. If you are interest to see his great performance (so far he’s the best pianist I ever seen and he definitely way better than our Ananda Soekarlan – Sorry Ananda) come to Gedung Kesenian Jakarta, tomorrow, 18 September 2011 at 20.00 (only if the ticket isn’t sold out). Well, if you can’t get any ticket, then wait until next year, he’ll be back and hopefully he bring his CDs. Anyway, it was so awesome that the 112-man stayed until the end of the performance. Amazing huh? To read more about this talented pianist, click his website he is also in twitter. Sudah bukan rahasia lagi konsep Transjakarta itu bagus, tapi implementasinya super buruk. Kendati layanannya buruk banyak orang mencintai transportasi yang satu ini. Cinta dan benci tentunya. Selain harganya yang cukup murah dan mencakup hampir seluruh wilayah Jakarta, transjakarta dicintai karena punya jalur sendiri, tentunya lebih cepat. Saya mencoba mengumpulkan dosa-dosa Transjakarta, hasilnya voila: - Ruang tunggu tanpa AC: Kopaja aja sudah berbenah diri menggunakan AC, karena kondisi Jakarta yang super panas.
- Tiket yang menghabiskan kertas: Dulu transjakarta menggunakan kartu elektrik yang kelihatan wah. Walaupun membuat kita kelihatan goblok, karena mesinnya ditunggu oleh seorang petugas yang bertugas mengarahkan dan membantu memasukkan kartu. Belakangan, managemen transjakarta memutuskan untuk menghabiskan berlembar-lembar kertas dan berhenti menggunakan kartu elektrik. Sungguh nggak efisien dan nggak peduli lingkungan. Plus merusak pemandangan karena sampah karcis yang berceceran.
- Pemborosan sumber daya manusia: Penjaga loket karcis kadang sampai dua orang, masih ditambah perobek karcis. Coba kalau pakai system elektronik.
- Tak ada toilet di halte Transjakarta: Yang ngerancang itu halte kebetulan nggak punya saluran kencing,jadi ya harap maklum kalau gak ada toilet di halte transjakarta.
- Jalanan yang selalu rusak: ini salah satu bentuk nggak efisiennya transjakarta. Jalanannya selalu dibetulin. Apa ya nggak ada kontraktor yang bisa memperbaiki itu jalan dengan kualitas super, bukan KW1, KW2 ataupun KW3, tapi KW Super? Mungkin Transjakarta harus mulai melirik kontraktor Korea yang bikin jalan dengan kualitas Amerika di Banda Aceh sana.
- Kondisi bis yang mengenaskan: Bis yang ACnya panas luar biasa, pegangan bis yang hilang (padahal pegangan bis ini penting untuk orang yang setinggi saya), bis bau, belum lagi penjaga pintunya yang suka bau.
- Armada yang kurang: entah gimana system procurement plannya, kebanyakan di korupsi kah? Armada transjakarta jelas perlu ditambah tapi niatan baiknya belum kelihatan.
Dosa Transjakarta di atas dilengkapi dengan tidak adanya system antrian yang baik yang kemudian disempurnakan dengan kebodohan orang Indonesia dalam mengantri. Udah bukan rahasia kebanyakan orang Indonesia kalah pinter sama bebek kalau baris dan ngantri. Untuk beli tiket sih bisa antri dengan lurus dan baik, tapi kalau masuk bis, harus sikut kanan dan kiri. Masuk bis perlu tenaga luar biasa, keluar bis juga perlu tenaga lebih besar lagi. Saya biasanya teriak permisi dan mulai menginjak kaki orang yang tidak mau member saya jalan; kejam memang. Ngomong-ngomong tentang mengantri, suatu kali saya mengantri di halte transit Harmoni. Tiba-tiba ada seorang ibu dan anaknya, serta seorang bapak yang tidak kenal ibu dan anak ini. Si Ibu dan anak langsung disuruh maju oleh si petugas ke depan saya, eh si Bapak juga disuruh maju. Maka saya pun nyolot! Langsung menegur si petugas kenapa si Bapak disuruh maju, alasan si petugas “Bapaknnya kan bawa anak”. Aduh ampun deh…udah jelas mereka nggak saling kenal. Dasar saya usil saya spontan berkomentar “Jangan gitu dong, asal aja orang disuruh nyerobot gak mendidik. Saya juga hamil ini tapi gak asal serobot sana sini.” Sambil mengelus perut gendut tercinta. Si mas pun langsung minta maaf. Puas deh rasanya!! Ada yang mau menambahkan dosa Transjakarta? -o0o- Bagi teman-teman muslim, bulan ini menjadi bulan yang sakral, dimana semua pahala dilipatgandakan, sehingga semua orang berbondong-bondong berbuat kebaikan (yang bikin pengemis membanjiri Jakarta demi kebaikan Ramadan). Semoga kebaikannya gak pas bulan puasa saja, tapi setiap ada kesempatan. Saking baiknya teman-teman saya, bulan ini saya jarang sekali makan di rumah karena banyaknya undangan buka bersama. Saya mencetak rekor dengan menerima empat undangan sekaligus dalam satu hari yang sama, walaupun akhirnya cuma menghadiri 3 undangan. Terus terang buat saya, bulan ini saya melihat yang namanya makanan berlimpah ruah dalam setiap kesempatan. Asal ada buka bersama, makanan pasti akan bersisa (dan sebagai anak kos sejati saya pun selalu membungkus makanan). Orang selalu mengatakan Alhamdullilah berkah Ramadan, sungguh half full. Tapi Nuwun sewu, saya kali ini mau half empty, bagi saya banyak sekali makanan yang terbuang percuma bulan ini. Kalau boleh lancang mengkritik, sepertinya esensi puasa menahan diri dari lapar jadi hilang, karena setelah waktu berbuka tiba saatnya kalap makan sebanyak-banyaknya, berbagai rupa makanan disuguhkan. Yang puasa pun juga memasukkan semua macam makanan layaknya orang yang takut kelaparan. Buntutnya gak semua makanan bisa dimakan, sebagian berakhir dengan tragis di tempat sampah, syukur-syukur kalau bisa dibagikan ke yang tidak mampu. Saya pernah sedikit ngomel sama teman. Gak heran kalau banyak yang naik berat badannya pas puasa, karena nggak satu orang pun yang takut santan. Belum lagi pada hari normal kalori yang dimakan 2000, energy yang dikeluarkan 2000; eh pas puasa kalori yang dimakan 4000, yang dikeluarkan paling banter 1000, karena alasan lagi puasa, gak mau ngerjain ini itu, panas lah. Tak hanya makanan yang berlimpah ruah, sehari sebelum puasa tiba, swalayan juga penuh, diserbu manusia yang berlomba-lomba berbelanja bahan makanan. Takut kelaparan atau takut kehabisan persediaan makanan? Harga pangan meningkat tajam, bahkan di Aceh harga satu kilo daging sapi mencapai 120.000. Untung gak doyan sapi! Maka tak heran bulan ini inflasi selalu tertinggi. Selain berbagi makanan, semangat berbagi di bulan ini juga direfleksikan dalam bentuk THR, Tunjangan Hari Raya. Dari kantor kepada pegawainya, dari yang kaya kepada yang kurang beruntung, sampai di kost juga ada pengumpulan THR. Suatu malam saya dibuntuti dan disodori permintaan sumbangan untuk THR. Boleh dibilang menodong. Tak hanya saya, semua penghuni kost yang berjumlah 52 orang tak ada yang kelewatan, mau Katolik, Kristen, Hindu bahkan Budha; semua kena todong. Syukurnya nggak ada pertumpahan darah dari urusan todong menodong ini, semuanya mengerti bahwa umat Muslim merayakan hari besarnya dan mereka pun (semoga) dengan iklas berbagi. Indahnya kalau teori berbagi ini bisa diterapkan oleh para ektrimist, asal gak berbagi kekerasan dan kebrutalan aja. Sekian renungan setengah ngomel à la saya, semoga bisa jadi bahan pemikiran dan tahun depan tidak banyak lagi makanan yang terbuang percuma. Selamat Hari Raya Idul Fitri untuk teman-teman yang merayakan. Mohon maaf lahir dan batin. Tahun ini, untuk pertama kalinya saya menghabiskan waktu di Jakarta pada saat Lebaran. Alasannya simple, sebagai pegawai baru saya belum boleh cuti. Jadilah dengan amandel yang lagi meradang berat saya terdampar di Jakarta, bekerja. Salah satu hal positif dari lebaran di Jakarta adalah jalanannya yang lengang. Sungguh indah. Perlu waktu kurang dari lima menit untuk mencapai kantor, tapi perlu sekitar 15 menit untuk menunggu taksi. Menurut Pak Supir Bluebird, hanya 30% pengemudi yang aktif, sisanya mudik. Transjakarta kosong tanpa antrian mengular, bisa tidur-tiduran, kalau diizinkan. Abang Kopaja juga jadi baik hati, nggak pakai teriak-teriak maksa turun, berhenti dengan sabar menunggu saya turun. Yang indah pada saat lebaran ternyata cuma jalanan yang kosong, karena urusan perut sungguh menyiksa. Nggak ada warung buka, jadi terpaksa moto: “padang lagi padang lagi” diterapkan dengan baik. Masak indomie tak mungkin (karena saya tak makan indomie), makan pasta bosan, makan sardine apalagi. Pas malam takbiran saya pun kembali lagi ke warung padang dekat kos yang hampir sold out, hanya sisa rendang dan ayam gulai. Berhubung saya nggak makan sapi, makan opsi satu-satunya adalah ayam gulai. Begitu melihat kondisi ayam yang sudah dimasukkan ke dalam kantong plastik hitam napsu makan nasi pun hilang. Pindah ke Indomaret. Indomaret yang terletak persis di depan kost dipenuhi tukang belanja dadakan, anak-anak kecil yang lagi kaya karena THR. Ibu-ibu yang lagi mencari hidangan untuk lebaran juga sibuk berdiskusi tentang mahalnya harga di Indomaret. Berhubung roti sama sekali tak tersedia, sold out, akhirnya saya keluar tanpa membeli apapun. Rugi rasanya beli camilan kalau harus ngantri lebih dari 30 menit. Balik ke kost dan menelpon KFC. Pas di konfirmasi, orderan salah. Padahal saya sudah tiga kali mengulang orderan. Menurut outlet KFC “operator tembak, kayak supir taksi tembak, banyak banget orderan yang salah hari ini”. Dua hari berturut-turut saya makan KFC, sungguh bosan. Hari ini, hari H lebaran, setelah berjalan beberapa meter, nemu warteg yang buka. Walaupun menunya nggak banyak, tapi setidaknya ada telur dadar dan nasi. Cukuplah. Eh kok pas sampai kos kertas pembungkusnya berminyak, ternyata si telur dadar bermandikan minyak. Buyar sudah rencana makan. Kalau sudah begini cuma bisa teriak-teriak, wahai 8 juta pemudik yang sekarang lagi makan opor ayam dan ketupat, cepatlah kembali ke Jakarta. Saya merindukanmu abang nasi goreng, abang mie ayam dan abang siomay. Biarpun kalian semua sering bikin perut saya keracunan, I still miss you abang! The last time I won a prize was in either 1991 or 1992, it was a writing competition in my school. The price was only pencils and other stationery, but the pride was priceless. It was so great and I can't forget how good it was. So when I got another opportunity to join a photography competition (and being a winner), I did all my best. For the sake of the winning feeling. I woke up early, and guys you know how much I hate the idea of leaving bed in the morning. Then, I decided to take pictures of the swan. Little did I know that capturing pictures of animals can be a torture. The pond is located next to mountain of waste and I stood there for more than 30 minutes. Ignoring the possibility of killed by the ghastly stench of decaying rubbish. Actually, the mountain rubbish was nothing compare to the smell of waste food thrown by the animal keeper to feed them. The smell was even worse than the skunk. Yet those swan happily eat it. My first attempt to take the pictures of the swan was failed. Sun was not great, so I decided to leave and walk around the area. When the sun finally rising, I head back to the pond and shot this picture: Karma brought me to another winning! This time, I won second prize in UNESCO Staff Day Photo Competition. Gosh it feels great! For more pictures, visit my Flickr. Sudah lama banget saya ingin mengunjungi Jakarta Highland Gathering, tapi sepertinya layaknya orang Jakarta, saya selalu didera kesibukan tak jelas. Hingga akhirnya mimpi saya untuk melihat pria memakai rok kilt keturutan. Ditambah kekasih bercerita bahwa pria-pria macho tersebut tidak memakai underwear di bawah kiltnya. Semakin bersemangatlah saya menuju Jakarta Highland Gathering yang ke 32 yang dilaksanakan di sebidang lapangan nan luas di dekat lapangan golf di Lippo Karawaci. Entrance fee dipatok 30.000 untuk orang dewasa. Di depan pintu masuk pun kami sudah disambut seorang kakek yang mengenakan Kilt: "sudah beli tiket?" katanya. Kami pun disuguhi pemandangan indah orang-orang yang bermain golf. Panas matahari pun tak kami indahkan demi melihat pria-pria macho dan olahraga machonya, serta tak lupa merasakan MAKANAN traditional. Perut yang sudah bernyanyi keronconcong terpaksa semakin keras menyanyinya, karena makanan yang ada di tenda-tenda bazaar adalah makanan lokal Indonesia. Dari sop buntut hotel ternama penguras isi kantor, karena harganya 80.000 sampai sate ayam pinggir jalan penguras isi perut. Ya kalau dengan 80ribu kita dapat tempat duduk yang memadai dengan AC, mungkin banyak yang mempertimbangkan, tapi tak ada perbedaan, semua duduk di bawah tenda raksasa, dihibur live music. Tentu saja tempat duduknya penuh! Untuk minuman, tak perlu cemas, ada bali cocktails yang menyediakan free cocktails di tengah teriknya matahari ada pula es milo yang juga gratis. Setelah mengganjal perut dengan dimsum dari salah satu restoran terkemuka di Jakarta, kami pun menuju lapangan utama untuk melihat parade pembukaan. Setelah parade pembukaan, ada kompetisi menari, pertunjukan tari, dari tari Bali, belly dance hingga Scottish Country Dance. Tapi yang paling top tentunya Caber Toss, melihat mas-mas macho berlari-larian menggotong sebatang kayu: Biar pakai rok kilt, yang penting macho. Pengen? Datang ke Jakarta Highland Gathering tahun yang akan datang. Tapi jangan harap melihat mereka tanpa underwear karena sekarang mereka pakai underwear!! Almost everyone in Malang have a great relationship with Mr. Beef, particularly with his ball, oops.... I mean, meat ball. The meat ball (bakso in Indonesia language) from Malang is well-known as the best meat ball in the country. So like everyone else, I maintained a good relationship with Mr. Beef (and his meatballs).Then, when I was 17 years young I decided to divorce Mr. Beef. Two weeks before my divorce, my stomach made love, almost every day, with meatball and sate from Warung Lama of Pak Haji Ridwan (I’ll tell you later why). Then I quit him and I never regret that decision.Some people or I must say, everyone has been asking the same question: “Why do you quit beef?” So here are the reasons:- My father died of cancer. As you know there’s a strong link between cancer and red meat.
- My mother divorce Mr. Beef and she encouraged me to do the same.
- Cattle are injected with hormones to make them grow faster and I don’t want to grow too fast.
- I witnessed how cows and goats refuse to walk to the field. As a child, I believe those animals knew that they were going to be slaughtered.
- I saw cows and goats being slaughtered, blood was everywhere, and the sound of their pain was so awful. The worse part: I looked deep into their eyes and of course my appetite was gone!
- I do meditation and beef (duck, lamb, chicken, even fish) are just not good for any meditation.
Hope this post answer the question and if you are seeking reasons to divorce Mr. Beef, visit the PETA’s website here. Anyway, it’s been five years since I divorced Mr. Beef and yes, I'm only 22 years old. Selama enam tahun bermukin di Jakarta, saya baru sekali menjejakkan kaki di salah satu pulau di Kepulauan Seribu. Pulau Bidadari yang kotor dan buruk rupa, tak seindah namanya. Jadi, ketika mendapatkan kesempatan untuk menghabiskan weekend murah meriah di Pulau Tidung, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut.
Terguncang Ombak Asmara Berangkat dari terminal Grogol sekitar pukul 6.30 pagi dengan menumpang angkutan umum B01, kamipun menuju Muara Angke. Di Muara Angke, kami menumpang kapal rakyat seharga IDR 30.000. Kurang lebih 30 menit sebelum bersandar di Tidung, tiba-tiba ombak mulai mengguncang perahu. Guncangan ini menjadi cobaan cinta bagi sepasang anak dara; si Mbak muntah, sang Mas mencoba mesra memegang plastic untuk menampung isi perut si Mbak. Tapi tak lama, setelah si Mbak puas, si Mas pun memuaskan hasratnya membuang isi perut, dalam plastic yang sama. Mereka bukanlah satu-satunya pasangan yang berkomitmen dalam suka dan duka, ada pasangan lain, juga bapak dan anak; yang single terpaksa memegang plastic sendiri. Teman saya, Kiki duduk, diam dan mulai mengatur pernapasannya. Lengkap dengan bergantian menutup hidung kanan dan kiri, mirip kelas yoga. Saya pun memilih tetap berbaring, menutup mata, dan mulai focus mendengungkan Aum untuk memberikan vibrasi pada perut saya. Syukurnya, tak sedikitpun saya mencium aroma muntah,
Sepeda Busuk Tidung Tujuan pertama kami, menyewa sepeda. Sepeda di pulau ini dihargai 15.000 rupiah per sewa. Cukup murah, tetapi kondisinya berkarat disana sini, sadelnya bergoyang ke kanan kiri seperti bebek. Kami pun mengayuh sepeda menuju timur pulau Tidung; tempat dimana jembatan cinta menyambungkan Tidung besar dan Tidung kecil. Entah mengapa disebut Jembatan Cinta, yang jelas kondisi jembatan ini layaknya jembatan yang tak pernah dicintai, berkarat, bahkan berlubang dan beberapa kayu hilang tak berbekas. Sambil duduk memandangi jembatan ini, kami menikmati brunch kami, nasi goreng ibu Udin seharga IDR 10.000.
Setelah kenyang, kami pun menyusuri pulau Tidung Kecil. Pulau ini sebenarnya cantik, asalkan tidak ada sampahnya! Sampah yang konon kiriman dari Jakarta itu beraneka ragam rupanya, dari Boneka Dora dan sandal jepit merek Dori, tas laptop, hingga tabung televisi. Kami juga sempat bertemu buaya yang terdampar di Pantai, boneka tentunya.
Puas berjalan kaki, beberapa teman terjun dari jembatan cinta tersebut. Berhubung saya takut ketinggian, maka opsi ini dicoret saja dan saya pun menghabiskan waktu dengan kayaking, memandangi jernihnya air di Tidung yang diramaikan dengan berbagai ikan dan bulu babi. Konon, kayaking dibandrol seharga IDR 35.000/ jam, tetapi ketika tiba waktu membayar, saya yang telah menghabiskan lebih dari 1.5 jam hanya dikenai biaya IDR 30.000.
Sunset di Tidung Sekitar pukul 16.45, saya dan Aafke mengayuh sepeda menuju barat pulau Tidung. Dengan kondisi sepeda yang luar biasa, rasanya menjadi siksaan untuk pantat saya, tapi tidak seberapa ketimbang seorang teman yang ditengah-tengah mengayuh harus kehilangan pedal sepedanya. Si pedal terbang melayang dan tak bisa dipasang lagi. Di sepanjang jalan menuju titik sunset, saya banyak menemui rumah penduduk dengan huruf-huruf Arab, menurut kabar, penduduk di pulau ini masih sangat religious. Kalau bahasa gaulnya sih: "Islamnya kuat". Sampai di ujung barat, ternyata matahari terlalu malu untuk mengucapkan salam perpisahannya hari itu. Jadi kami mendapatkan langit mendung di pulau Tidung dengan sedikit semburat orange.
Bermalam di Warung Bu Udin Tadinya, kami berencana untuk mendirikan tenda dan tidur di tenda. Tapi oleh si Ibu pemilik warung, kami ditawarkan untuk tidur di warung beliau, bahkan disediakan tikar, free of charge! Jadilah kami bermalam di pinggir pantai, sembari mendengarkan debur ombak yang bersaing dengan suara dengkuran teman-teman kami. Sekitar pukul tiga pagi, udara tiba-tiba menjadi sangat dingin dan hujan serta angin pun mengguyur Tidung.
Paginya, kami kembali dengan kapal pukul 07.00, kali ini harga yang harus di bayar IDR 32.000. Perjalanan pun kami tempuh selama 2,5 jam, dan kami pun kembali ke pelukan ibukota, dengan segala problematikanya.
Rupanya kenangan akan kotornya Tidung begitu melekat di benak seorang teman, sehingga timbulah keinginan untuk membersihkan pulau ini. Setelah mengumpulkan pasukan, maka lahirlah event Gabung Mulung Tidung. Sebuah aksi membersihkan dan mengedukasi masyarakat local, dan juga wisatawan di Tidung tentang sampah. Kegiatan kami akan dilaksanakan besok, tanggal 14 dan 15 May 2011. Maka weekend ini saya akan membersihkan sampah. Horray!!
Have a nice weekend everyone!
Hidup di Jakarta, dengan segala kemudahan di dalam menjalani hidup, adalah sebuah kebahagiaan yang tidak ternilai. Begitu juga akses terhadap pendidikan, keluarga yang mendukung serta kesehatan, hal tersebut merupakan anugerah paling indah, bagi saya. Tapi tentunya tidak semua orang mengalami hal yang sama dengan saya. Contohnya Yusuf, bocah yang saya perkirakan berusia sekitar 12 tahun itu berperawakan kurus. Jika diajak bicara, dia akan menunduk, kurang percaya diri rupanya. Hari ini Ucup, begitu dia dipanggil, menerima hadiah dari berupa uang dari orang tua asuhnya. Ditemani sang sukarelawan, dibelanjakannya uang tersebut untuk membeli sepasang sepatu bola, tas dan beberapa alat tulis untuk mendukung studinya. Sebagai ucapan terimakasih kepada sang orang tua asuh, Ucup harus membuat surat. Nah disinilah masalah bermula. Ucup tidak bisa merangkai kata. Sehingga, seorang sukarelawan yang baik hati mendikte huruf satu per satu. Menjelaskan bagaimana rupa huruf P, bagaimana bentuk huruf F. Merangkaikan kalimat apa yang harus ditulis, sehingga orang tua asuhnya di negeri nan jauh disana mengerti bahwa hadiah yang diberikan telah diterima dan telah dibelanjakan. Tak hanya Ucup, saya juga bertemu dengan seorang adik kecil yang diantarkan oleh Ibunya. Si Adik menerima hadiah sebesar 20 dollar. Jumlah angka yang tidak banyak, bahkan tak cukup untuk membeli sepatu saya yang sisi kiri, tetapi yang membuat saya tertampar si Ibu bertanya kepada Mas yang bertanggung jawab terhadap pembagian hadiah tersebu: “Boleh nggak dibelikan ayam? Soalnya sudah banget nggak makan ayam, tahu lagi tahu lagi. Laki saya jarang kerja.” Tak hanya itu, ada juga cerita mengenai seorang adik kecil yang akan pergi berwisata ke Ancol dan sangat ingin membeli baju renang, ada pula yang ingin membayar les bahasa inggrisnya, membeli teri, sayur bayam bahkan mentraktir temannya. Sungguh warna warni Jakarta yang tentunya menjadi pengingat bagi kita agar kita selalu bersyukur atas apa yang kita miliki. -o0o- PS: terimakasih atas doa dan cinta teman-teman MPers semua, saya sudah bekerja kembali pada NGO yang menangani isu anak-anak. Mohon doanya agar sebelum kontrak saya habis bulan Juni ini, saya dapat yang lebih baik lagi. *nyengir* Malam itu, saya dan beberapa teman baru selesai mengambil foto di Klenteng Jin De Yuang yang berlokasi di Glodok. Setelah puas mengabadikan persiapan perayaan tahun baru Imlek, kami memutuskan untuk pergi makan malam dan naik bis transjakarta (TJ) jurusan kota Blok M. Ketika itu, saya berdiri di bagian belakang bis, sembari memeluk tiang dengan kencang. Tiba-tiba supir bis menginjak rem, bis berhenti mendadak, SAYA TERJATUH, bukan terjatuh biasa, tetapi melayang bak superman, tapi gagal, sehingga bagian pantat dan punggung jatuh terlebih dahulu. Mengikuti jejak saya, telepon genggam saya juga terbang, entah kemana. Saya kemudian dibantu berdiri oleh teman dan penumpang bis lainnya. Dengan bantuan penumpang bis lainnya, telepon genggam saya dapat ditemukan. Akibat terjatuh setengah melayang, kaki saya terkilir dan mengalami sakit, hingga hari ini. Tapi saya tak ambil pusing, yang penting kepala saya aman. Walaupun saya berharap-harap agar punggung saya tidak mengalami gangguan apa-apa. Tahukah anda mengapa supir bus tersebut menginjak rem dengan tiba-tiba? KARENA ADA SESEORANG YANG TIDAK BERTANGGUNG JAWAB MENYEBERANG DI JALUR BUS TRANSJAKARTA!! Cerita lain dari dalam Bus TJ, terjadi pada hari Sabtu yang lalu, ketika saya menuju Stasiun Kota. Seorang Ibu berjalan di jalur TJ lalu menyeberang kea rah museum bank Mandiri. Layaknya American’s next top model, jalur bis TJ tersebut dijadiikan catwalk diiringi bunyi klason dan omelan pengemudi. Bukannya minta maaf atau mempercepat langkahnya, si Ibu malah memberikan muka sinis penuh dengan kejutekan ke sang Supir. Lha, salah, pakai jutek pula! Bisa dibayangkan betapa beratnya menjadi pengemudi bis TJ, gaji tak seberapa, resiko besar, dijutekin, harus pakai jas padahal AC bis tidak dingin, paru-paru tercemar bau keringat penumpang, belum lagi kalau menabrak orang di jalur TJ, beresiko digebukin massa. Hari ini, kita sekali lagi dikejutkan dengan berita tertabraknya seorang pelajar Sekolah Dasar, sang korban tewas mengenaskan di daerah Mampang. Sebelumnya, di tahun 2009 hal serupa pernah terjadi, tetapi korban tidak sampai meninggal dunia. Warga sekitar Mampang mengamuk, tak hanya supir yang menjadi korban, jalur TJ pun di blokir warga dan ratusan, mungkin ribuan penumpang terkatung-katung. Bukan sekali dua kali, jalur bus TJ yang seharusnya steril dilintasi penyeberang jalan, kendaran pribadi bahkan kendaraan negara. Ada apakah dengan warga Jakarta, mengapa kita tidak bisa disiplin di jalan? Apakah di sekolah dan di rumah tidak ada lagi pendidikan mengenai pentingnya menyeberang di zebra cross atau di jembatan penyeberangan? Hmm..sepertinya ibu-ibu Polwan perlu disiagakan dan memerintahkan setiap penyeberang jalan yang melanggar aturan untuk push-up! Dulu waktu saya kelas 6 SD, saya pernah dimarahi oleh Ibu Polwan karena menyeberang tidak pada zebra cross. Beruntung saya masih kecil, sehingga tidak perlu push up seperti murid-murid SMA yang tertangkap menyeberang tidak di zebra cross. Semoga dengan kejadian ini kita semua bisa berkaca dan belajar untuk menjadi disiplin, sehingga tak ada lagi keteledoran yang mengakibatkan hilangnya nyawa. Semoga pula masyarakat bisa lebih bijak dalam melihat sebuah permasalah dan tidak asal menyalahkan serta mengobarkan pihak lain. o0o
End of Our Journey on Earth "Weep Not, She is not dead but Sleepeth."
Picture was taken in Museum Taman Prasasti, Jakarta, Indonesia. With my Canon 450 D and EF 100 mm f/2.8L Macro IS USM. To participate in Picture Perfect Competition, click here.
Waktu saya dan teman-teman ke Baduy, kami mengambil kereta api kelas ekonomi jurusan ke Rangkasbitung yang biayanya 2000 rupiah saja. Saat itu, saya melanggar “sumpah” saya untuk tidak naik kereta api ekonomi tanpa AC lagi. “Sumpah” itu sendiri timbul setelah saya dan teman-teman naik kereta api murah meriah ke Bogor dan terpaksa mandi sauna diiringi suara teriakan pedagang minuman yang mendorong trolleynya di tengah kepadatan penumpang kereta. Konon, kalau pedagang minuman ini masih bisa mendorong trolley minumannya, maka kereta belum penuh. 
Anak-anak bermain sepeda di Stasiun Rangkasbitung. Kembali lagi ke cerita kereta menuju Rangkasbitung, kereta ini tenyata berbeda dengan kereta lainnya. Keretanya sih sama-sama bau, panas tanpa AC, tapi orang-orang di dalamnnya membuat suasana kereta ini menjadi berbeda. Belum sampai lima menit saya masuk ke kereta, sudah ada Mas-mas yang menawarkan tempat duduknya kepada saya dan Kiki. *iya serius nggak boong!!*. Tak sampai lima belas menit menikmati duduk di kereta yang panas, diiringi music dangdut super kencang, saya berdiri memberikan tempat duduk saya untuk seorang kakek. Malu hati. Tapi kurang dari 30 menit kemudian, saya mendapatkan kursi lagi, kali ini dari seorang perempuan. Si Mbak ngotot ingin memberikan kursinya dan hendak berdiri, karena kepanasan dan ingin berdiri, menikmati semilir angin dari jendela kereta. Oh indahnya kebersamaan dalam kereta, seandainya penumpang transjakarta seperti mereka, Jakarta akan berbeda. *boro-boro kursi, tiang untuk pegangan saja terkadang dikuasai sendiri, kalau sudah begitu saya rasanya ingin teriak memaki: bekas penari telanjang yang nari-nari di tiang ya Mbak?* Dua orang pengamen anak-anak, yang seorang perempuan berusia sekitar 7-8 tahun, duduk manis, dengan speaker di pangkuannya, sedangkan sang adik yang berusia sekitar 5 tahun duduk di sampingnya. Sepanjang perjalanan, jika tidak sedang menyanyi, si adik kecil ini mengunyah tahu, salak atau meminum minuman yang dijajakan pedagang asongan. Mereka duduk dengan manisnya dan terus menerus menerima uang tanpa perlu berjalan-jalan. Setelah satu lagu diputar, digantilah kasetnya dengan kaset lainnya. Tangan kirinya memegang mic sembari menyanyi, sedangkan tangan kanannya sibuk memegang tutup bolpen dan memutar pita kaset. Perempuan kecil itu menyanyi, bergantian dengan adiknnya, terkadang beberapa pria juga ikut menyanyi. Seorang pria yang duduk di samping adik kecil, tampak sibuk mengigiti bagian bawah sebuah kantong plastik, lalu menuangkan minuman berwarna merah tua tersebut ke dalam sebuah gelas plastik. Setelah itu, diberikannya gelas plastik tersebut kepada segerombolan pria yang sibuk bermain kartu domino. Tak lama, gelas tersebut dikembalikan lagi pada pria dengan plastik itu, diisi kembali, lalu diedarkan untuk dihabiskan. Rupanya, aktivitas yang sedang saya lihat adalah perdagangan anggur merah di atas kereta api. Jangan bayangkan ada banyak gelas, hanya ada satu gelas yang berpindah dari satu bibir ke bibir yang lain. Dari pengamatan saya, anggur tersebut dijual seharga dua ribu rupiah, tidak per gelas, tapi untuk 1/6 bagian. Sang pedagang anggur ini cukup dermawan, dia terlihat beberapa membagi sebagian uangnya untuk adik kecil pengamen. Konsumen dari perdagangan anggur ini adalah segerombolan pria muda yang sibuk bermain kartu domino. Kegiatan ini melibatkan tak hanya uang sebagai taruhannya, tetapi juga topi di kepala dan pakaian yang melekat di badan. Gerombolan tersebut bukan satu-satunya, di sisi yang lain, juga terdapat sekelompok pria yang lebih berumur dan sibuk bermain domino. Kertas koran menjadi alas permainan itu, sehingga kartu-kartu tersebut tidak tercecer. Tetapi tidak ada uang yang menjadi taruhannya, apalagi pakaian, ataupun topi. Pedagang tahu tak henti-hentinya berteriak-teriak menjual dagangannya, bersaing dengan pedagang salak. Semakin mendekati tujuan akhir, harga yang ditawarkan tidak berubah, masih sama, tapi kuantitas yang diberikan semakin banyak. Dengan 5000 rupiah saja, tahu yang didapatkan mencapai 40 buah, padahal sebelumnya hanya 20 buah saja. Begitu juga dengan buah salak. Bahkan seorang pedagang alpukat bersedia menjual seluruh dagangan sisanya yang berjumlah sekitar 7 buah seharga 5000 rupiah saja. Oh, kereta api, sungguh murah meriah!
o0o I’ve always want to visit Taman Prasasti, an Old Dutch cemetery since I saw few pictures from a friend blog but was too busy and unable to make it, until yesterday. Kiki and I finally hit the museum cum cemetery and shot few pictures. Yay! 
The museum located only a stone’s throw away from the famous Tugu Monas and can be reached by Transjakarta Bus. Upon arriving in the museum, we will greet by the tall headstones, with the names of the dead people on it, mostly Dutch, but you could find German, French, British, Japanese, Chinese, even New Yorker. Few prominent people were once buried here, including the famous activist cum poet cum writer cum student cum lecturer Soe Hok Gie, the wife of Thomas Raffles, Olivia and the mysterious Kapiten Jas. Well the cemetery wasn’t only a home for the prominent person, a merchant, a surgeon were also buried there. According to the gardener that I met, only one body remains in that cemetery, the rest was already moved when Ali Sadikin reconstructed the cemetery on 1972. The bodies were moved either to Ereveld Menteng Pulo or back to their home country, while Kapiten Jas’ coffin was unable to be moved because it stuck under a tree and held tightly by the root.. Soe Hok Gie’s body was cremated and his ashes scattered on the top of mount pangrangro, as per his wishes.. 
I personally consider this neglected museum as a park of love, because if you walk along you would see many headstones with love message from a hubby to a wife, from parents to kids, from wife to husband, from friends to other friend, here are some interesting notes that I found: ----------------------------------------------------------------------- Weep not, she’s not death but sleepeth ----------------------------------------------------------------------- In Loving Memory Gone From Us But Not Forgotten Never Shall, Thy Memory Fade ----------------------------------------------------------------------- Farewell, dear friends, my life is past My love to you so long did last And now for me no sorrow take But love each other for my sake Unfortunately, the museum which located next to the government’s office is in poor condition, just like the other museum. Some statues are broken; some headstones have been vandalized with spray paint and the metal headstone rust. Oh Indonesia…… o0o HOW TO GET THERE: · Take a Transjakarta Bus direction Blok M – Kota. · Stop in Harmoni and walk towards Jalan Tanah Abang. · Jl. Tanah Abang I is located in right side of the road and once you turn to the right, the Museum is there. Have fun!
For more pictures, please click www.flickr.com/ailtje  
Hitting the Coconut My friend invited me to attend an Indian Festival. Apparently there's a small African community in India and on that night, they performed a very fabulous dance. So focus on your coconut, jump and hit it. Picture was taken with CANON EOS 1000 D and its 18-55 lens Kit and has been cropped using Microsoft Windows Photo Viewer. This week theme is Focused and our host is Cherie. To join Picture Perfect, please click here. As promised, here is a tiny piece from my fabulous roller coaster about how I lost my job: In the last four years I have been worked on a contract basis and on December 2009, I completed my assignment in a post-conflict project. It didn’t take long; I immediately received another offered as a number cruncher for a post-tsunami project. The job commenced on January 2010 and challenge accepted! *Barney Stinston’s style* in the last 12 months I crunched all the numbers, faced every challenge given and most importantly, travelled a lot for free. Yay!! Time flies and in the beginning of December 2010 we received a thank-you letter informed us that our contract will end this December. However the letter didn’t informed us whether we will be extended or not and it violated one of the article in our contract. We are supposed to be informed a month before our contract reach its term, be it an extention or a termination. Working in mystery like that was hell, but I was really lucky because someone leaked the gas, my contract will not be extended. So I prepared my exit strategy, sent tons of application to others institution and prepared my mental to be out of work. With the uncertainty in work, I decided to fly to Palembang to celebrate New Year with my family. So I was there when I received the confirmation regarding our contract. Contrary from the informal information which I received on 30 December (I was informed that my contract would be extended for another three months), the bomb exploded, and my contract wasn’t extended, the the exact sentence was: you are no longer needed in the project. Please pack your belonging and leave the office immediately. I was really prepared for everything and I already packed my belonging few days before they dropped the bomb. Anyway, I wasn’t alone, three other finance and admin assistants and the three other technical assistants were also expelled from the project and only one person from the finance unit remains in the project. I found it cruel, no, brutal, very brutal that people drop the bomb on the very last day of the contract, let alone the violation of the contract. We are all having mouth to be fed, bills and tuition to be paid. Even worse, three of financiers are having a single mother who needs to be supported. Had the information arrived sooner, I am pretty sure that they will find another job, or at least prepared for something like I did. But hey, bad thing happened. My world didn’t crumble thanks to my awesome supporting systems, family, best friends and boyfriend, the universe seems to be so nice to me and on the very first day of the year, I met my previous boss (I worked in a law firm before) and you know what, she offered me to drop my CV to her and she will see what she can offer to me. Oh the universe is so nice to me! Few days later I also received an invitation for a discussion about a post in a child organization. Eight days, yes eight days, after I lost my job, my previous big boss invited me for a discussion and offered to extend my contract because apparently the project needs me for the audit. Well, I care about my heart and I stick to their decision that I no longer needed, so I refused the offer. Other reasons why I didn’t want to accept the job back is because I want to take a break. Besides, it would be very unfair to my team members if I accept the job while they are out of work. Some of you my wonder, why I am not afraid of being out of work, there are two reasons: first my supporting system is super duper great and the other thing is I have prepared my financial situation. Have you save eight months-worth of your salary in your bank account? If you haven’t, start doing it and leave it untouched in your bank account, so when the bomb dropped, you can stand on both of your feet and held your head high! Not that I wish you to lose your job, but hey, bad things happened and life can be brutal sometimes. Oops, I mean, life is always wonderful, people can be brutal sometimes. You never know. -o0o- PS: This post is merely a journal for me and not intended to defame others. If you feel offended by my post, please feel free to contact me. I'd love to hear another shit! PPS: I know my English isn’t that good, but I forced myself to write in English so my foreigner friends can read it. If there are many grammatical errors here and there, you are welcome to correct it :-) PPPS: Losing a job is nothing, compare to losing a dog!
|